Thursday, December 3, 2015

"LOKKI" DARI PEKERJA mau MENJADI RAJA



Terdapat sebuah desa di seram bagian barat tepatnya huamual depan kecamatan huamual. Desa tersebut dahulunya dalah sebuah kem atau tempat tinggal para pekerja disebuah perusahaan. Sudah bukan rahasia lagi kalau sebagian besar wilayah seram bagian barat khususnya wilayah huamual merupakan tanah onderdeming atau tanah bekas penguasaan belanda pada masa penjajahan.
Terdapat dua buah perusahaan kolonial belanda di seram bagian barat sendiri yaitu perusahaan lokki dan perusahaan waisala. Pada mulanya kedudukan kantor pusat dari perusahaan belanda ini adalah di piru sekaligus sebagai pusat pemerintahan kala itu. Namun seiring perkembangan dan kebutuhan serta potensi perekebunan yang menjanjikan di pesisir huamual, memberikan motovasi penjajah untuk mendirikan sebuah kantor dan perusahaan di huamual depan yaitu LOKKI Bedrif.
Kata lokki sendiri sampai sekarang belum jelas asal muasalnya, ada yang mengatakan bahwa kata lokki berasal dari kata LO’I yang berarti berkumpul atau LOGI tapi sama sekali tidak beralasan. Karena pengejaan yang sangat aneh dan terdengar tidak seperti nama sebuah perkampungan. Menurut sejarah yang disampaikan oleh moyang masyarakat KATAPANG adalah bahwa masyarkat LOKKI sesungguhnya adalah para pekerja yang didatangkan dari beberapa daerah untuk membantu jalannya perusahaan onderdeming.
Pada tahun 1878 pemerintah belanda mulai menetap di sebuah lokasi di labuang (tanjung halulu) mereka menetap di sana kerana lebih mudah bagi mereka untuk melakukan proses bongkar muat dengan menggunakan kapal atau perahu motor. Pada tahun 1870 selain pengumpulan damar pamerintah belanda sudah mulai menjalankan usaha lain yaitu kelapa hingga di tahun 1900an. Pemerintah belanda sangat senang dengan masyarakat katapang karena keuletan mereka dalam bekerja. Banyak masyarakat katapang kemudian diberi tanah oleh belanda. Tahun 1880an pemerintah belanda mulai kembangkan usaha penanaman padi. Namun damar dan sagu masih menjadi prioritas. Hingga pada tahun 1880an usaha di onderdeming pada saat itu sangat maju dengan berbagai macam hasil pertaninan yang diperoleh. Karena senangnya pamerintah belanda kepada masyarakat katapang kemudian mereka mendirikan sekolah di onderdeming (lokki sekarang) bersama para pekerja mereka, pemerintah belanda meminta agar anak-anak masyarakat katapang bersekolah pada sekolah yang telah didirikan tersebut. Tahun 1940 ketika terjadi peperangan antara belanda dengan jepang sebagian anak masyarakat Katapang sudah enggang berangka ke sekolah karena takut dengan bunyi ledakan bom yang selalu menghiasi alam katapang pada saat itu sampai pendudukan jepang di Piru dan Onderdeming masyarakat katapang banyak yang sudah tidak mau bersekolah. Pada jaman jepang selayaknya pada pendudukan belanda masyarakat katapang masih dijadikan sebagai pekerja usaha yang ditinggalkan belanda dilanjutkan oleh jepang dengan pola yang berbeda namun masih memiliki tujuan yang sama yaitu keuntungan sendiri.
Ditahun 1945 setelah kemerdekaan dan jepang menyerah pemerintah belanda kemudian menduduki lagi indonesia dan semakin menjadi mengambil keuntungan di tanah merah putih ini. Begitu juga maluku dan khususnya di pulah seram dan lebih khusu di Katapang pemerintah belanda mulai memperbaiki peninggalan perkebunan yang pernah mereka tinggalkan. Mereka kembangkan semakin baik semakin banyak tenaga yang mereka datangkan. Hampir setiap warga masyarakat yang menjadi budak mereka, mereka didatangkan untuk mengembangkan perusahaan di bekas Onderdemin yang kemudian diganti nama dengan Bedrif yang lebih dikenal dengan Lokki Bedrif. Pekerja-pekerja itu didatangkan dari berbagai tempat antaranya Pulau Saparu, Pulau Ambon, Pulau Seram, pulau saparua, pulau nusa laut, Tahun 1945 paska menyerahnya jepang semakin banyak pekerja yang didatangkan di Perusahaan Lokki (Lokki Bedrif) oleh pemerintah belanda sehingga mereka membangung sebuah lokasi sebagai tempat tinggal mereka yang sekarang di kenal dengan Desa Lokki.
Ada semacan anggapan tentang asal nama lokki, sebagaimana nama sebuah kampung di sebelah barat Kampuang Katapang yaitu UHE. Nama uhe sendiri diambil karena kebiasaan masyarakat menyebutnya sebagai uhe yang diambil dari nama pemilik kebun di daerah itu yaitu La Uhe. Pada jaman itu seorang masyarakat Katapang La Uhe mendirikan sebuah kebun di lokasi tersebut sehingga setiap ada yang hendak bepergian ke daerah itu mereka lebih familier dengan sebutan kebun uhe. Ketika ada yang bertanya tentang tujuan mereka hendak pergi mereka lebih senang menjawab hendak ke uhe. Hal itu berulang setiap saat sehingga kampung itupun sampai sekarang dinamakan UHE.
Anggapan tentang nama lokki ini juga mulai muncul, ada kemungkinan asal munculnya kata lokki dari seringnya masyarakat katapang kala itu menyebutnya dengan LOKKIS (Te Lokki) bahasa penduduk katapang yang sebagian besar asal buton. Perlu diketahui bahwa wilayah lokki itu kaya akan sebuah hasil laut yang bernama lokkis yaitu salah satu hewan laut yang hampir mirip dengan Lobster. Lokkis sendiri hidup di dalam sebuah lubang di pasir dan batuan yang berlumut. Pada jaman dahulu sebagian besar masyarakat katapang manfaatkan lokasi itu sebagai tempat mencari Lokkis. Setiap masyarkat yang menuju ke daerah tersebut pasti sudah dapat di terka bahwa orang tersebut pergi mencari/mengambil Lokkis. Jadi ada kemungkinan nama lokki tersebut diambil oleh pemerintah belanda karena keseringan masyarakat katapang menyebut nama daerah itu dengan TE LOKKI  karena identik lokasi itu dengan hasil LOKKIS.

No comments:

Post a Comment

Sampaikan Komentar Anda