Monday, February 17, 2014

CIKAL BAKAL TERBENTUKNYA KAMPUNG KATAPANG



CIKAL BAKAL TERBENTUKNYA KAMPUNG KATAPANG


Masuknya islam di Bagian Timur Indonesia khusunya di Sulawesi dan Maluku melalui kesultanan Buton dan Kesultanan Ternate merupakan cikal bakal terbentuknya kampong katapang.  Pada tahun 1540  ketika kerajaan buton dijadikan kesulatanan dengan nama kesulatanan buton dan dipimpin oleh Sultan pertama yaitu Sultan Lakilaponto  Murhum Sultan Kaimuddin Khalifatul Khamis beliau berkeinginan untuk memperluas ajaran islam sampai ke pulau-pulau bagian timur. Karena mayoritas masyarakat kesultanan buton berprofesi sebagai pelaut, maka mereka pung mengetahui pulau-pulau yang berada di bagian timur termasuk Maluku, Papua dan Timur-timur. Dimasa kepemimpinannya, sultan pertama ini kemudian mengutus beberapa orang ahli agama pada saat itu mencari informasi sekaligus menyirakan agama islam di Maluku. Utusan-utusan ini kemudian berangkat menuju Maluku,  kemudian mereka singga di Maluku Utara dan kemudian ke pulau seram. Dipulau seram sendiri mereka membagi tugas dan kelompok mereka menjadi beberapa kelompok yang masing-masing ke bagian barat dan timur. Di kesultanan Ternate sendiri islam telah ada sejak tahun 1465 namun masih kalangan raja yang telah menganut agama islam, di tahun 1500 dibawah kepemimpinan Sultan Bayanullah barulah islam semakin berkembang di Moloko Kie Raha - Maluku Utara. Ditahun ini pula datang bangsa portugis ke Maluku awal kedatangan bangsa protugis dirasakan sangat membantu perkenomian di wilayah ini namun seiring berjalannya waktu tingkah laku portugis mulai menjadi dan membuat masyarakat menjadi muak dan marah atas bangsa itu. Pada puncaknya di tahun 1571-1575 di bawah kepemimpinan Sultan Babulah seluruh pos-pos Portugal di seluruh Maluku dan wilayah timur Indonesia digempur, setelah peperangan selama 5 tahun, akhirnya Portugal meninggalkan Maluku di tahun 1575. Tahun 1570-an dibawah kepemimpinan Sultan Babulah inilah cikal bakal terbentuknya kampung katapang. Gerakan perlawanan terhadap bangsa portugis hingga ke seluruh pelosok negeri termasuk Pulau Seram membuat kesultanan ternate harus menyebarkan pasukan mereka ke segala penjuru termasuk membantu kerjaan huamual di Seram Barat. Dalam pasukan yang disebarkan ini terdapat juga beberapa utusan kesultanan buton yang telah lama berkedudukan di Ternate. Demi untuk mewujudkan niat mereka membawa ajaran Islam, maka bereka mingikuti pasukan kesultanan ternate untuk ke pulau seram. Sehingga pasukan ini mulai menetap di katapang pada tahun 1570-an. Setelah protugis hengkang dari Maluku di tahun 1575 sebagian besar pasukan kesultanan ternate kembali ke kesultanan ternate dan sebagian kecil dari mereka tinggal untuk melihat perkembangan yang terjadi beberapa tahun kedepan termasuk beberapa putra utusan kesultanan buton. Kala itu belum dibangunan suatu perkampungan, mereka tinggal dan menetap di daerah pegunungan karena khawatir keberadaan mereka diketahui oleh bangsa protugis. Tahun 1560 datang lagi beberapa orang perantau yang ditugaskan menyiarkan agama islam dari kesultanan buton. Kemudian mereka singgah di katapang yang belum memiliki nama pada saat itu hanya berbentuk sebuah tempat persinggahan. Kemudian mereka mebanguan tempat tinggal berasama-sama dan menetap di lokasi tersebut sampai mereka di panggil kembali oleh kesultanan ternate dan buton karena terjadi peperangan dengan spanyol pada tahun 1580. kehidupan yang dibangun dikatapang pada saat itu hanyalah sebagai sebuah tempat persinggahan sehingga kapan saja mereka bisa datang dan pergi.


Pada tahun 1599 mereka tidak menetap hanya datang dan pergi sesuai kepentingan yang dijalankan hingga pada sekitar tahun 1607 ketika belanda berhasil mendirikan benteng di Ternate Maluku Utara dan menjalankan misi pengkristenan membuat  utusan kesultanan buton bersama-sama dengan separuh pasukan kesultanan ternate yang berjumlah kurang lebih 15 orang tinggal di daerah itu dalam waktu yang cukup lama tahun 1607 – 1625 aktifitas yang dilakukan waktu itu hanyalah berjalan berdakwa. Dengan perahu kora-kora yang di bawah dari kesultanan masing-masing mereka mampu bergerak kemana saja sesuai dengan petunjuk yang diterima. Kejadian datang dan pergi ini kemudian berulang kembali sampai pada akhir tahun 1700 kurang lebih tahun 1780an kemudian mereka hengkang. Tidak satupun yang datang lagi, yang tinggal hanyalah tokoh-tokoh agama para mujahid yang sahid dan dikuburkan disana. Kuburan-kuburan itulah yang dikenal dengan Karamat Dulang oleh masyarakat kampong katapang. Anak cucu dari mereka inilah yang kemudian mendirikan kampong katapang hingga sekarang.
Salah satu bukti nyata yang dapat kita lihat sekarang adalah ahli atau tokoh agama yang meninggal dan dikuburkan pada keramat dulang skitar tahun 2008 datang menemui anak cucunya lewat sebuah mimpi. Beliau berpasan kepada anak cucunya untuk mengambil barang-barang peninggalannya yang disimpan dibekas tempat tinggal mereka dulu yakni di karamat dulang.  Namun sayangnnya beliau tidak sempat menyebutkan namanya. Dan barang peninggalnnya masih ada dan disimpan sampai sekarang. Ini membuktikan bahwa antara jenasah para mujahid di keramat dulang masih ada hubungan keturunan dengan masyarakat katapang sekarang ini.


Inilah sepenggal kisah yang pernah diceritakan orang tua dulu yang sempat di dokumentasikan. Semoga dapat menambah informasi bagi generasi selanjutnya di Katapang.

Diceritakan oleh :

  1. H. Taher Bin La Ambo dari La Ambo
  2. Hasan Sangaji dari H. Haming Sangaji, H. Taher Bin La Ambo
  3. Abdul Gani Sangaji dari H. Haming Sangaji
  4. H. Djabir dari H. Marhaban, La Gusi
  5. H. Saiwa dari La Saidi
  6. M. Kasim Sangaji dari H. Haming Sangaji, H. Marhaban, H. Saiwa
  7. Usman Bin Ahmar oleh Usman
  8. Syukur La Isa
  9. Taher Silow

Referensi lain :
Sejarah Kesultanan Buton
Sejarah Kesultanan Ternate

2 comments:

Sampaikan Komentar Anda