Saturday, February 3, 2018

ANTARA CITA-CITA DAN CINTA (Bagian 12)

Pagi itu setelah beres-beres rumah, zanit bercenana bermain ke rumah qila, zanit ingin bersilaturahmi dengan sahabatnya. Memang hampir sebulan setelah selesai ujian sekolah mereka jarang bertemu, hanya lebih banyak bersilaturahmi lewat telpon. Pagi itu qela juga menemani ibunya ke bank, ibu qeela ingin mengecek tabungan kuliah qeela yang sudah sekian lama disimpan di bank. mungkin ini saatnya untuk melihat tabungan mereka, sebentar lagi qeela akan menempuh kuliah sesuai cita-citanya.

Setelah sampai di bank, betapa terkejuitnya ibu qeela mendengar penyampaian petugas bank, kalu tabungan atau rekening beliau nihil. Manamungkin seperti itu, sementara tabungan tersebut belum pernah diambil oleh beliau. Ibu qeela baru beberapa kali mengecek saldo tabungan itu lewat atm, tapi untuk mengambil uang tersebut belum pernah.
Menurut teller bank uangnya baru nihil bulan kemarin, sebelumya saldo yang terkumpul cukup banyak lebih dari Rp. 30. juta rupiah. Apakah ibu pernah mengambil uang lewat ATM, tanya teller bank, tidak pernah kata ibu qeela, henya beberapa kali saya ngecek saldo saja, Berarti tabungan ibu mungkin kena hackers. 





Qeela dan ibunya kemudian pulang dengan hati yang hampa. terlebih bagi qeela. hatinya hancur berkeping-keping. impiannya yang dibangun selama ini hilang begitu saja. kenapa masih ada orang yang tega berbuat seperti itu pada mereka. Qeela sangat terpukul terlebih lagi ibunya, entah apa yang harusnya mereka lakukan, apakah tabungan mereka bisa dikembalikan. Qeela terasa seperti dibakar, entah apa yang terjadi pada masa depan dan cita-citanya, hancur, hilang semuanya.
Perasaan hancur ini dia hampir saja hilang kendali, dalam perjalanan pulang mereka dari kejauhan terdengar suara adzan, hati qeela luluh, mungkin inilan takdir Allah swt. aku tidak boleh jatuh karena cobaan ini, kalau aku jatuh seperti ini lalu bagaimana dengan ibu, qeela bergumam sendiri dalam hati.  Seketika dia tampak tegar namun belum bisa tenang sepenuhnya, Qeela ingin melampiasakan kesedihannya dengan menangis sekencangnya, namun dia berfikir betapa hancur hati ibunya kalau melihat dia seperti itu.

Sampai di rumah Qeela lalu berwudhu dan sholat, dia melampiaskan segala rasa di hati kepada Sang Pemilik Hati, dia pasrahkan segalanya kepada Illahi Rabbi, Qeela pasrah dengan takdir yang diterimanya. Qeela  sangat kecewa, namun tidak bisa berbuat banyak. Setelah shalat, terdengan suara sahabantnya zanit. Zanit langsung ke kamar qeela. Kehadiran zanit sedikit mengobati hati qeela yang sejak tadi gusar dan sedih, Qeela kemudian menceritakan semuanya kepada sahabatnya, tidak terasa mata keduanya memerah. Begitulah kedua sahabat ini yang selalu berbagi, dikala senang maupun sedih.

Hari sudah sore, matahari sedikit demi sediki mulai menghilan dari pandangan mata. Zanit pamit kepada qeela untuk pulang. Zanit tidak langsung pulang kerumahnya, dia mampir sebentar di rumah ahkam untuk menceritakan kepada ahkam kejadian yang menimpa qeela. mendengan cerinta dari zanit, ahkam lalu menuju rumah qeela, ahkam diminta zanit untuk memberikan hiburan untuk qeela, zanit juga berpesan kepada ahkam bahwa hari ini bukan hari yang tepat untuk menyampaikan omongan orang tua ahkam kepada qeela. ahkam memahami permintaan zanit dan memendam hatinya untuk teteap menghibur qeela.

Setiap hari ahkam berusaha untuk menenangkan hati qeela. Qeela perlahan mulai bisa menerima keadaan ini. mungkin cita-cita itu hanya potret SMA yang hanya bisa dipandang olehnya. Hari-hari berlalu, tidak terasa dua minggu lagi mereka mendengar pengumuman lulus sekolah. selama beberapa hari ini qeela tidak lagi berbicara masalah cita-citanya, tidak lagi berbicara masalah kuliahnya. 

Dalam sebuah kesempatan, ahkam menceritakan, masalahnya kepada qeela, qeela bergumam dalam hati, apakah inilah masa depanya. dalam hati qeela berkata "apakah aku harus nikah dengan ahkam secepat ini, lalu bagaimana dengan impianku, bagaimana dengan cita-citaku, bagaimana dengan ibu serta adiku, begitu banyak tanya dalam hatinya. qeela meminta waktu untuk memikirkan perkataan ahkam padanya. Ahkam menyerahkan semua keputusan pada qeela.

Qeela terlihat gelisa, hatinya bercampur aduk, antara bahagia, ataupun sedih, bahgia karena ahkam melamarnya dan sedih karena cita-citanya sedang diujung tanduk. Langkah mana yang harus aku Kuliah atau menikah, kalu kuliah, bagaimana caranya, darimana biayanya, lalu kapan waktunya. kalau menika, bagaimana dengan adik dan ibu, bagaimana dengan cita-cita dan impianku.

Melihat putrinya gelisa, ibu qeela lalu mendekati qeela dan bertanya perihal apa yang ia pikirkan, qeela lalu menceritakan tentang hubungannya dengan ahkam, ibu qeela seakan tersenyum bahagia dan memberikan kepada qeela keterbukaan mengambil sikap, ibu qeela membelai rambat anaknya itu sambila berkata, nak semua takdir kepunyaan Allah SWT, yang penting kita telah berusaha dan tawakal, mungkin ini jalan dari Allah SWT yang harus kita terima, ini ujian bagi kita. qeela terdiam.

Senin depan adalah hari pengumuman lulus sekolah, aku harus memberikaan jawabanku pada hari itu, gumam qeela, setiap malam qeela memohon kepada Allah SWT lewat doa dalam tahajutnya. shalat istigarah, mohon petunjuk Allah SWT, untuk menunjukan pilihan mana yang patutnya dia ambil. Seminggu lebih iya memikirkan jalan mana yang harus diambil, dan sampailah pada pengambilan kepututusan, karena kuliah sudah tidak mungkin ia laksanakan, jalan satu-satunya adalah menikah dengan kekasih yang juga sahabatnya itu. tidak ada jalan lain, dia juga tidak ingin mengecewakan kekasihnya, apalagi ini adalah permintaan dari orang tua kekasih hatinya yang begitu baik kepadanya.

Besok adalah hari pengumuman lulus, qeela menghubungi ahkam dan zanit untuk bertemu di sekolah besok. mereka bertiga sepakat untuk berkumpul lagi di sekolah. Qeela memiliki tekat bulat untuk menyampaikan keputusannya pada ahkam. Dia akan menerima pinangan Ahkam, karena memang jalan untuk dia lanjutkan kuliah di kedokteran seperti cita-citanya sudah tertutup. Dia hanya bisa menahan hatinya agar terlihat tegar di hadapan ibunya.

bersambung.......................

BACA JUGA :

Antara Cita-Cita dan Cinta Bagian  Mukadimah
Antara Cita-Cita dan Cinta Bagian  Satu
Antara Cita-Cita dan Cinta Bagian  Dua
Antara Cita-Cita dan Cinta Bagian  Tiga
Antara Cita-Cita dan Cinta Bagian  Empat
Antara Cita-Cita dan Cinta Bagian  Lima
Antara Cita-Cita dan Cinta Bagian  Enam
Antara Cita-Cita dan Cinta Bagian  Tujuh
Antara Cita-Cita dan Cinta Bagian  Delapan
Antara Cita-cita dan cinta Bagian  Sembilan
Antara Cita-cita dan cinta Bagian  Sepuluh
Antara Cita-cita dan cinta Bagian  Sebelas
Antara Cita-cita dan cinta Bagian  Duabelas
Antara Cita-cita dan cinta Bagian  Tiga belas
Antara Cita-cita dan cinta Bagian  Akhir